TEMPLATE ERROR: Error during evaluation of all-heabodyd-content Neizya's_Blog: PERANG BADAR, UHUD DAN KHANDAQ >

About Me

Foto Saya
semarang, semarang, Indonesia
cerewet, simple

Blog Archive

Minggu, 25 Desember 2011

PERANG BADAR, UHUD DAN KHANDAQ


I.                   PENDAHULUAN
Nabi Muhammad merupakan seorang rosul Allah yang diutus untuk menyiarkan ajaran Islam. Namun untuk menjadi seorang rasul tidaklah mudah, beliau sudah diberi cobaan oleh Allah sejak masih didalam kandungan ibunya. Sebelum menjadi rasul, beliau selalu dihadapkan pada keadaan yang sulit sejak kecil. Mulai dari menjadi yatim piatu, menjadi seorang penggembala kambing, menikah dengan wanita yang sudah janda, dan masih banyak lagi. Semua itu memang sengaja dilakukan oleh Allah untuk membentuk jiwa yang kuat pada diri rasul, agar jiwa rasul terbentuk sebagai seorang yang sabar dan selalu mendekatkan diri kebadaNya serta selalu bersyukur. Namun bukan berarti setelah menjadi seorang rasul, beliau hidup enak, nyaman dan tentram, beliau selalu mendapatkan tantangan-tantangan dalam kehidupannya, salah satu dari sekian banyak tantangan yang rasul hadapi adalah banyak terjadinya peperangan antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy. Diantara peperangan yang terjadi, yang akan dibahas pada makalah ini adalah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Perang Badar
B.     Perang Uhud
C.     Perang Khandaq

III.             PEMBAHASAN
A.    PERANG BADAR
1.      Latar Belakang Terjadinya Perang Badar
Pertempuran Badar (bahasa Arab: غزوة بدر, ghazawāt badr), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan, yaitu antara kaum Muslimin dan kaum Kafir Quraisy.
Disebut sebagai peristiwa besar, karena perang Badar merupakan awal perhelatan senjata dalam kapasitas besar yang dilakukan antara pembela Islam dan musuh Islam. Saking hebatnya peristiwa ini, Allah namakan hari teradinya peristiwa tersebut dengan Yaum Al Furqan (hari pembeda) karena pada waktu itu, Allah, Dzat yang menurunkan syariat Islam, hendak membedakan antara yang haq dengan yang batil. Di saat itulah Allah mengangkat derajat kebenaran dengan jumlah kekuatan yang terbatas dan merendahkan kebatilan meskipun jumlah kekuatannya 3 kali lipat. Pada peperangan ini kekuatan antara kaum Muslimin dan kaum kafir Qurais tidak seimbang, yaitu Pasukan kecil kaum Muslim berjumlah 313 orang sementara pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang.
Yang melatarbelakangi terjadinya pertempuran ini yaitu, Pada Suatu ketika terdengarlah kabar di kalangan kaum muslimin Madinah bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagangnya, hendak berangkat pulang dari Syam menuju Mekkah. Jalan mudah dan terdekat untuk perjalanan Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah. Kesempatan berharga ini dimanfaatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat untuk merampas barang dagangan mereka. Harta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin. Mengapa demikian? Bukankah harta dan darah orang kafir yang tidak bersalah itu haram hukumnya?
Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan harta Orang kafir Quraisy tersebut halal bagi para shahabat:
1.      Orang-orang kafir Quraisy statusnya adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang secara terang-terangan memerangi kaum muslimin, mengusir kaum muslimin dari tanah kelahiran mereka di Mekah, dan melarang kaum muslimin untuk memanfaatkan harta mereka sendiri.
2.      Tidak ada perjanjian damai antara kaum muslimin dan orang kafir Quraisy yang memerangi kaum muslimin.
Dengan alasan inilah, mereka berhak untuk menarik kembali harta yang telah mereka tinggal dan merampas harta orang musyrik.[1]
Allah gambarkan kisah mereka dalam firmanNya:
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjata-lah yang untukmu (kamu hadapi, pent. Yaitu kafilah dagang), dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (Qs. Al Anfal: 7)
2.      Kecamuk Perang Badar dan Hasilnya
Kecamuk perang Badar dimulai dengan perang tanding satu orang melawan satu orang. Allah menurunkan Malaikatnya yang bertempur bersama-sama dengan kaum mukminin. Allah menolong tentara-Nya. Pada peperangan ini terbunuh beberapa pemuka Quraisy diantaranya, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, ‘Utbah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin ‘Utbah. Dalam pertempuran itu orang Quraisy terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang, sedangkan dari pihak kaum muslimin ada 14 orang yang mati syahid.
Kemudian rasulullah membagikan hasil rampasan perang diantara kaum muslimin itu. Sedangkan mengenai para kaum Quraisy ya ditawanan, Umar bin Khaththab menasehati rasul agar semua tawanan itu dibunuh saja, Namun Abu Bakar mempunyai pendapat lain. Dia menasehati rasul agar para tawanan itu membayar fidyah. Rasulullah mengambil pendapat Abu Bakar. Maka turunlah wahyu kepada rasul yang mencela keputusannya dan isi wahyu itu setuju dengan pendapat Umar. [2]Allah berfirman, pada Surat Al-Anfal:67 yang artinya:
Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (al-Anfal:67)

3.      Makna Penting Perang Badar
Peristiwa Badar memiliki dampak yang sangat kuat dalam menebarkan posisi islam yang demikian tinggi. Sebab, ini merupakan satu-satunya perang dimana kaum muslimin mengalami kemenangan dalam arti sebenarnya. Peristiwa ini menjadi asas yang kuat untuk masa depan islam. Oleh sebab itulah, Al-Qur’an menyebut peristiwa ini dengan “Yaum al-Furqan” karena ia membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Surah al-Anfal yang turun pada peperangan ini telah mengajarkan beberapa pelajaran penting dalam masalah perang misalnya, bagaimana cara menghadapi musuh, kesatuan dan menghindari perpecahan, kokoh dan sabar dalam kancah peperangan, serta menyebut nama Allah dalam masa-masa yang sangat penting.
Pada saat itu telah diletakkan syariat dan aturan yang berhubungan dengan Perang Badar ini, Yaitu:
a.       peringatan agar tidak mencari dan mengejar hal-hal yang bersifat kebendaan didalam perang.
b.      Hendaknya senantiasa ditanamkan didalam dada usaha untuk menegakkan agama Allah.
c.       Legalisasi pembagian harta rampasan perang. [3]


B.     PERANG UHUD
a.       Latar belakang terjadinya perang Uhud
Kekalahan kaum musrikin Quraisy di dalam perang Badar nyata-nyata menjatuhkan martabat mereka sehingga kebanyakan dari kepala-kepala dan ketua-ketua mereka merasa lebih baik mati daripada hidup dengan terhina. Oleh Sebab itu terjadinya perang ini adalah adanya keinginan orang-orang Quraisy untuk membalas dendam kepada kaum muslimin atas kekalahan yang mereka derita pada saat Perang Badar. Pada suatu saat, pemimpin-pemimpin dan ketua-ketua Quraisy mengadakan permusyawaratan untuk memutuskan bagaimana caranya melakukan pembalasan kepada tentara muslimin hingga mereka hancur sama sekali. Setelah dibicarakan dengan masak-masaknya, dalam permusyawaratan itu akhirnya diputuskan dengan sebulat-bulatnya keputusan berikut ini:
·         Kafilah dagang Quraisy ke negeri Syam yang dikepalai oleh Abu Sufyan yang dapat melepaskan diri dari kejaran tentara Muhammad dan selamat dari bahaya, maka keuntungan dari kafilah dagang tadi harus dikeluarkan oleh masing-masing orang yang ketika itu mengirimkan dagangannya ke negeri Syam, kemudian keuntungan tadi dikumpulkan guna membalas memerangi Muhammad dan tentaranya guna menghancurkan kota Madinah.
·         Kabilah-kabilah Tihamah, kinanah dan lain-lainnya dari kabilah-kabilah arab yang berdekatan dengan kota Mekah perlu diikat dengan perjanjian oleh kaum Quraisy.
·         Kaum perempuan Quraisy, terutama yang familinya tewas pada Perang Badar, harus ikut berangkat ke peperangan.[4]

b.      Berangkat Perang
Saat itulah Abu Sufyan bersama dengan 3.000 pasukannya berangkat dan menetap digunung Uhud. Pihak Quraisy berangkat dengan membawa kaum wanitanya juga, dipimpin oleh Hindun. Dialah orang paling panas hati ingin membalas dendam, karena dalam peristiwa Badr itu ayahnya, saudaranya dan orang-orang yang dicintainya telah mati terbunuh. Mendengar keberangkatan pasukan Quraisy ini, rasulullah segera melakukan konsultasi kepada sahabat-Sebagian besar dari mereka mengajukan pendapat agar pasukan  Islam keluar dari Madinah. Maka keluarlah sebanyak 1.000 tentara. Ditengah perjalanan, orang-orang munafik pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul melakukan penghianatan dengan menarik 1/3 tentara dari pasukan kaum muslimin. Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa Rasulullah telah mengingkarinya dengan cara keluar dari Madinah dan tidak mengambil pendapat mereka.[5]

c.       Rincian peperangan
Akhirnya dua angkatan perang berhadapan satu sama lain di dekat gunung Uhud. Nabi SAW mengatur strategi peperangan dengan sempurna dalam penempatan pasukannya. Beberapa orang pemanah ditempatkan pada suatu bukit kecil untuk menghalang majunya musuh. Pada awalnya musuh menderita kekalahan. Sehingga banyak dari para pemanah Muslim meninggalkan pos-pos mereka untuk mengumpulkan barang rampasan.
            Wahshi, budak Jubair bin Muttan bersembunyi sendirian di belakang sebuah batu karang dan dengan licik menyerang Hamzah RA sehingga Hamzah RA mati syahid. Meskipun Hamzah RA telah dengan jelas pada posisi yang menang. Pasukan pemanah diperintah oleh Nabi SAW untuk tidak meninggalkan posisi mereka dalam keadaan apapun juga.Kebanyakan para pemanah merasakan bahwa Allah SWT telah memberikan kemenangan kepada angkatan perang Muslim. Mereka tidak tahan untuk mengumpulkan barang rampasan musuh yang berharga tersebut. Abdullah bin Jubair RA, pemimpin pasukan pemanah mengingatkan mereka tentang instruksi dari Nabi SAW.
            Sangat disesalkan, Abdullah bin Jubair RA ditinggalkan di sana dengan hanya sembilan orang pemanah. Musuh mengambil kesempatan ini dan sekali lagi menyerang para pemanah ini  dari arah bukit ini. Banyak dari kaum Muslim yang mati syahid dan bahkan Nabi SAW mengalami luka yang sangat parah. Pasukan berkuda musuh maju terus dan mengepung angkatan perang Muslim. Kaum Muslim menjadi panik dan kacau, dan beberapa orang terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Kemenangan dengan cepat berubah menjadi suatu keadaan yang sangat mengkhawatirkan.
            Ada tiga faktor, yang menyebabkan berubahnya kemenangan menjadi kekalahan kaum Muslim seperti itu. 
1)      Pelanggaran terhadap perintah Nabi SAW oleh pasukan pemanah.
2)      Berita kematian Nabi SAW. Ini melemahkan semangat banyak orang-orang beriman.
3)      Perselisihan paham di medan perang tentang perintah Nabi SAW.

d.      Contoh Kepahlawanan
            Dalam perang Uhud ada banyak kaum muslimin yang menunjukkan sikap kepahlawanannya, antara lain yaitu:
1)      Musab bin Omair RA bertugas memegang bendera angkatan perang Muslim dan bertempur dengan sangat dahsyat. Selama bertempur tangan kanannya terpotong. Ia memegang bendera dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kirinya juga dipotong oleh musuh. Ia berlutut dan menjepit bendera dengan dada dan dagunya. Ia syahid dalam kondisi seperti ini. Karena Musab RA sangat mirip dengan Nabi SAW, orang kafir mengumumkan bahwa Nabi SAW telah terbunuh. Ini melemahkan semangat orang-orang beriman.
2)       Abu Dajana RA berdiri di depan Nabi SAW dengan punggungnya ke arah musuh untuk melindungi Nabi SAW. Banyak panah musuh menancap di punggungnya tetapi ia tidak bergerak satu inci pun.
3)      Ummi Amara RA, suami dan dua orang putranya juga berkumpul disekeliling Nabi SAW ketika hanya ada beberapa orang Sahabat saja di sekeliling beliau. Ummi Amara dengan pedang terhunus bertahan bersama Nabi SAW dari semua arah. Keseluruhan keluarga mempertunjukkan keberanian luar biasa. Nabi SAW mengatakan, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Nabi SAW juga mengucapkan doa berikut untuk keluarga ini, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga Sahabatku di Surga.”[6]

e.       Renungan Perang Uhud
Sesungguhnya kekalahan kaum muslimin di Perang Uhud ini telah memunculkan sifat-sifat yang utama diantara mereka. Misalnya, kekokohan dan keteguhan pendirian, pengorbanan, keinginan yang kuat, keimanan dan sifat kesatria.
C.     PERANG KHANDAQ
1.         Latar Belakang Terjadinya Perang Khandaq
Perang ini merupakan salah satu peristiwa terbesar yang terjadi di bulan Syawwal tahun 5 H/Maret 627 M. Ia dinamakan “Perang (Ghazwah) Ahzab” dan “Perang (Ghazwah) Khandaq”. Dinamakan “Perang Ahzab” karena dalam peperangan itu orang-orang kafir Quraisy bersekongkol dan membentuk persekutuan (ahzab) dengan orang-orang Yahudi. Sedangkan dinamakan “Perang Khandaq” karena dalam peperangan itu kaum muslimin menggunakan parit (khandaq) sebagai pertahanan.
Penyebab terjadinya perang karena beberapa pemimpin Yahudi dari Bani Nadlir berangkat ke Mekkah untuk mendorong kaum Musyrikin Quraisy melancarkan perang terhadap Rasulullah saw. Mereka berjanji: “Kami akan berperang bersama-sama kalian hingga berhasil menghancurkannya.“ Selanjutnya mereka berdalih dan meyakinkan bahwa: “Kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik daripada agama Muhammad.“ Maka mereka bersepakat bersama kaum Musyrikin Quraisy untuk memerangi kaum Muslimin, pada hari yang telah ditentukan bersama.
Berkenaan dengan mereka inilah Allah swt menurunkan firman-Nya:
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan Thogut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (Musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dariapda orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Siapa saja yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.“ QS.An-Nisa 51-52.
Kemudian para pemimpin Yahudi itu mendatangi suku Ghathafan dan berhasil mewujudkan persekutuan dengan mereka sebagaimana yang telah berhasil diciptakannya dengan kaum musyrikin Quraisy. Selain Bani Ghatfahan, turut bergabung pula Bani Fuzarah dan Bani Murrah yang selama itu menyimpan dendam kesumat terhadap Islam.[7]

2.         Persiapan Perang Kaum Muslimin
Ketika Rasulullah saw mendengar berita keberangkatan mereka dari Mekkah, beliau mengumumkannya kepada kaum Muslimin dan memerintahkan mereka untuk mengadakan persiapan perang. Rasulullah saw meminta pandangan para sahabatnya dalam menghadapi peperangan ini. Salman al-Farisi mengusulkan supaya digali parit di sekitar kota Madinah. Kaum Muslimin mengagumi usulan ini dan menyetujuinya (karena cara ini belum pernah dikenal oleh bangsa Arab dalam peperangan mereka). Kemudian bersama Rasulullah saw kaum Muslimin keluar dari kota Madinah dan berkemah di lereng gunung Sila dengan membelakanginya. Mereka mulai menggali parit yang memisahkan mereka dengan musuh mereka. Dalam proses penggalian parit di kota madinah waktu itu terjadi empat macam peristiwa mengherankan bagi orang-orang yang mengetahuinya, keempat peristiwa itu adalah:
a.       Tentang batu besar yang tidak dapat diangkat.
b.      Buah kurma yang sedikit berubah menjadi banyak.
c.       Makanan yang sedikit depat menjadi banyak.
d.      Batu yang dipecahkan dan mengeluarkan cahaya.
3.         Kekalahan Kaum Musyrikin Tanpa Peperangan
Jumlah kaum Muslimin dan kaum Musyrikin pada perang ini sangat tidak sebanding. Waktu itu jumlah kaum Muslimin sebanyak tiga ribu sedangkan kaum Quraisy bersama kabilah-kabilah lain berjumlah sepuluh ribu. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi semangat dan kegigihan kaum Muslimin untuk membela agama Allah. Maka Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam perang Khandaq ini tanpa melalui pertempuran. Allah mengalahkan mereka dengan dua sarana yang tidak melibatkan kaum Muslimin sama sekali.
Pertama, dengan seorang lelaki dari kaum Musyrikin bernama Nu‘aim bin Mas‘du, yang datang kepada Nabi saw menyatakan diri masuk Islam yang kemudian menawarkan diri kepada Nabi saw untuk melaksanakan segala bentuk perintah yang diinginkan oleh Nabi saw. Lalu Nabi saw memberikan tugas untuk memecah kekuatan musuh. Kepadanya Nabi saw berpesan: "Diantara kita, engkau adalah satu-satunya orang yang dapat melaksanakan tugas itu. Bila engkau sanggup, lakukanlah tugas itu untuk menolong kita. Ketahuilah bahwa peperangan, sesungguhnya adalah tipu muslihat.“
Nu‘aim kemudian segera pergi mendatangi orang-orang Bani Quraidlah untuk meyakinkan. Mereka mengira Nu‘aim masih sebagai seorang Musyrik agar mereka tidak turu berperang bersama-sama kaum Quraisy sebelum mendapat jaminan dari mereka berupa beberapa orang terkemuka sebagai sandera, supaya kaum Quraisy tidak mundur meninggalkan mereka sendirian di Madinah tanpa pembela dalam menghadapi Muhammad dan para sahabatnya. Mereka menjawab: “Engkau telah memberikan suatu pendapat yang amat baik.”
Setelah itu Nu‘aim pergi mendatangi pemimpin-pemimpin Quraisy. Kepada mereka Nu‘aim memberitahukan bahwa Bani Quraidlah telah menyesal atas apa yang mereka lakukan dan secara sembunyi-sembunyi mereka telah melakukan kesepakatan bersama Nabi saw untuk menculik beberapa peimpin Quraisy dan Ghatfahan untuk diserahkan kepada Nabi saw untuk dibunuhnya. Karena itu, bila orang-orang Yahudi itu datang kepada kalian untuk meminta beberapa orang sebagai sandera, janganlah kalian menyerahkan seorang pun kepada mereka.
Nu‘aim kemudian pergi mendatangi orang-orang Bani Quraidlah. Kepada mereka ia mengemukakan apa yang dikemukakannya kepada orang-orang Quraisy. Demikianlah akhirnya terjadi salah paham di antara mereka dan saling tidak mempercayai. Sehingga masing-masing dari mereka menuduh terhadap yang lainnya sebagai berkhianat.
Kedua, dengan mengirimkan angin taufan pada malam hari yang dingin dan mencekam. Angin taufan datang menghempaskan kemah-kemah merekan dan menerbangkan kuali-kuali mereka. Hal ini terjadi setelah mereka melakukan pengepungan kepada kaum Muslimin selama sepuluh hari lebih.[8]
IV.             PENUTUP
1.        SIMPULAN
Dari ketiga perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW yang di uraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kaum Muslimin bisa mengalahkan pasukan kaum Kafir Quraisy pada pertempuran Badar. Perang Badar merupakan pertempuran skala besar yang pertama antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy. Kemenangan kaum muslimin atas kaum Quraisy ini memicu timbulnya dendam dalam diri kaum Quraisy. Akhirnya mereka melancarkan serangan kepada kaum Muslimin guna membalas dendam atas kekalan yang dialaminya pada perang Badar. Maka terjadilah perang Uhud, mengapa dinamakan perang Uhud? Karena peperangan terseut terjadi di Bukit Uhud.
Perang Khandaq sendiri terjadi karena beberapa pemimpin Yahudi dari Bani Nadlir berangkat ke Mekkah untuk mendorong kaum Musyrikin Quraisy melancarkan perang terhadap Rasulullah saw. Mereka berjanji: “Kami akan berperang bersama-sama kalian hingga berhasil menghancurkannya.“ Selanjutnya mereka berdalih dan meyakinkan bahwa: “Kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik daripada agama Muhammad.”


[1] http://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/02/perang-badar-perang-besar-pertama-umat-islam/
               
[2] Ahmad, al-usairy, SEJARAH ISLAM (sejak zaman nabi Adam hingga Abad XX), Jakarta : AKBAR, 2003, hal. 111
[3] Ahmad, al-usairy, Op.Cit hal. 113.
[4] Moenawar, Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jakarta: GEMA INSANI PRESS, hal.100
[5] Ahmad, al-usairy, SEJARAH ISLAM (sejak zaman nabi Adam hingga Abad XX), Jakarta : AKBAR, 2003, hal. 115.
[6] http://koneksidewainside.crazy4us.com/t39-mengenang-kisah-perang-uhud

[7]http://daffodilmuslimah.multiply.com/reviews/item/114?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

[8]http://daffodilmuslimah.multiply.com/reviews/item/114?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem

2 komentar: